Yuk Intip Saran Ahli Saat Bikin Lubang Cahaya di Atap

Skylight tidaklah perihal anyar pada dunia arsitektur lantaran bangunan tradisionil maupun kuno udah lebih dahulu menempatkannya. Skylight yaitu lubang bukaan sinar yang ada pada bagian atap bangunan.

Arsitek Sigit Kusumawijaya mengemukakan pemanfaatan skylight semestinya sesuai dengan keadaan rumah atau bangunan. Apabila rumah itu ada di lokasi yang sangat mungkin buat mendapat penyinaran alami melalui jendela lebar, skylight gak demikian dibutuhkan.

Kebalikannya, apabila rumah itu terdapat di lokasi yang tak memberi dukungan buat bikin jendela besar, pemecahannya yaitu menempatkan skylight. “Bila udah ada skylight, tak usah lagi mendatangkan jendela lebar lantaran bikin sinar kebanyakan masuk,” paparnya.

Skylight bukan sebatas soal masukkan sinar cahaya matahari ke bangunan, namun dapat juga dipakai buat kebutuhan artistik bangunan. Sigit mengemukakan arsitek dapat bikin perancangan skylight dengan garis-garis atau bikin sinar yang masuk semakin temaram biar area tampil semakin sensasional.

Simak Juga :polycarbonate
Penting pun menjadi perhatian tak semua area butuh banyak sinar matahari. Ada area-ruangan yang cuma butuh sinar redup, misalkan area keluarga atau kamar tidur.

Sigit mengemukakan, waktu penghuni ingin bikin skylight, lebih baiknya melihat penempatan serta peletakannya. Disaat terpasang di atap, skylight jangan terhambat plafon maka sinar dapat lurus masuk ke dalam area.

Seandainya skylight terpasang di atap miring atau horizontal, cermati aspek lain, seperti hujan, angin, serta serangga. Jangan sempat kehadiran skylight malahan memberikan kerugian penghuni.

Tidak hanya penyinaran alami, Sigit mengemukakan, skylight dapat dirancang lewat cara buka-tutup. Disaat skylight dibikin terbuka, udara panas dalam rumah dapat keluar lewat lubang itu. Akan tetapi, ia menganjurkan, apabila menempatkan cara tadi, skylight mesti didesain agar dapat digapai tangan atau memanfaatkan alat buat buka serta menutupnya.

Bab material skylight, menurut Sigit, penghuni dapat memanfaatkan polikarbonat atau kaca tempered. Namun, ujarnya, skylight lebih bagus memanfaatkan kaca tempered dengan ketebalan 8-10 milimeter biar tak ringan pecah. Walaupun di Indonesia tak ada salju, kaca dengan ketebalan itu dikira bisa memperkirakan peluang lain seperti hujan es.

READ  Cat Akrilik Ubah Barang Bekas Jadi Baru

Artikel Terkait :atap sirap

Mengenai perihal ukuran skylight, untuk Sigit tidaklah ada peraturan tersendiri yang mengharuskannya. Walau begitu, penting sesuai dengan kepentingan penyinaran dalam rumah. Apabila sinar matahari masuk kebanyakan, bisa menyebabkan panas pada bagian di dalam rumah. “Dapat dibikin pun skylight dengan bentuk kecil-kecil maka sinar yang masuk tidak terlalu,” paparnya.